Emas dikenal sebagai aset safe haven, yaitu aset yang sering dicari ketika kondisi dunia tidak stabil. Karena itu, banyak orang beranggapan bahwa harga emas pasti naik ketika terjadi konflik atau perang.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran dan Amerika Serikat, harga emas justru sempat mengalami tekanan.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Harga emas pada dasarnya bergerak berdasarkan supply dan demand.
Sejak tahun 2022, salah satu pendorong utama kenaikan harga emas adalah pembelian besar dari bank sentral berbagai negara. Banyak negara menambah cadangan emas untuk diversifikasi dari dolar AS.
Namun ketika pembelian emas oleh bank sentral mulai berkurang, harga emas pun bisa mengalami tekanan.
Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Iran–AS, sering membuat harga minyak dunia naik.
Bagi negara yang merupakan importir minyak, kenaikan harga minyak berarti pengeluaran negara ikut meningkat. Akibatnya, negara perlu menyesuaikan anggaran mereka.
Cara penyesuaiannya mirip seperti mengatur keuangan rumah tangga:
Dalam konteks negara, “tabungan” tersebut bisa berupa cadangan emas.
Karena itu, beberapa negara bisa memilih untuk menunda pembelian emas atau menjual sebagian cadangan emas, sehingga permintaan emas global berkurang dan harga emas bisa turun sementara.
Harga emas dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi global seperti konflik geopolitik atau pergerakan harga minyak.
Agar tidak ketinggalan momentum, Anda bisa menggunakan fitur Gold Alert di aplikasi Goemas. Dengan fitur ini, Anda dapat mengatur target harga emas dan mendapatkan notifikasi otomatis ketika harga mencapai level yang diinginkan.
Dengan Gold Alert Goemas, Anda bisa memantau pergerakan harga emas dengan lebih mudah dan menentukan waktu yang tepat untuk bertransaksi.